Bunga yang Selalu Sempurna
![]() |
| andrew kim from pixabay |
Saat dia baru terjaga dari tidurnya, dia seperti melompat dari mimpi buruk. Ada yang mengganjal di hatinya: semacam ada batu kecil yang tergigit di antara ribuan nasi yang dia kunyah, atau seperti kerupuk yang lupa dimakan saat nasi dan lauk sudah terlanjur tandas.
Tapi kegiatannya hari ini sama saja seperti hari-hari lainnya: beberes, mandi, sarapan, dan pergi ke gym. Hanya ada satu keluhan di kepalanya dan dia tak bisa mendeskripsikan itu. Bahkan dia tak memahami masalahnya. Dia seperti ingin marah tapi tidak tahu kepada siapa.
Dia berhenti bekerja. Tapi bukan itu yang mengganggunya hari ini! Sebab sampai dua bulan ke depan pun dia masih bisa makan dari sisa-sisa gaji dan tabungan semasa kerjanya dulu. Namun tetap saja seperti ada yang menghambatnya. Seperti ada sisa makanan yang tak tertelan di tenggorokannya, sehingga mengganggunya bernapas.
Dia pergi ke rumah makan. Sebidang kolam menghampar di halaman. Air mengalir dari satu sisi. Dia memesan makanan dan minuman yang berbeda dari yang lalu-lalu. Berharap keajaiban terjadi untuk mengusir kegelisahan ini. Dia langsung meneguk air, menyuapi mulutnya dengan seksama. Di tengah-tengah itu, sambil melihat-lihat lanskap kolam, dia mendapati bunga teratai di pusat kolam.
Salah satu bunganya tampak begitu mencolok, dengan warna mayoritas merah muda, yang dibumbui gradasi putih di tepi-tepinya. Meminjam istilah dari cerpen Murakami, dia mendapati bunga yang "seratus persen sempurna".
Setelah makan, dia menghampiri bunga teratai yang paling indah, yang seratus persen sempurna. Naas, embus angin merontokkan satu kelopak bunga. Sayang sekali, sesalnya. Tapi dia menyadari bahwa ternyata itu tak mengubah apa-apa. Bahkan, saat kelopak itu terpisah dari tangkai dan gugusan kelopak lainnya, satu kelopak itu tetap sangat sempurna. Dia tetap tak berhenti berdecak atas kecantikan dan kesempurnaan kelopak yang rontok itu.
Hanya saja, hatinya yang lunak, yang tak terbiasa dengan itu, terpaksa menyerah. Rasanya tak ada pilihan lagi selain menyerah. Dia pun hanya mengamati kesempurnaan bunga itu dari kejauhan. Menatapnya dengan seksama dan penuh rasa takjub, sambil meyakinkan diri bunga itu akan sempurna selamanya. Dia membalikkan badan dan pulang dengan tenang.

Komentar
Posting Komentar