Hanya Ada Masa Kini


Pantai selalu meletakkan Hemingway pada dunia yang begitu berbeda. Hamparan pasir, bentangan langit, gulungan ombak, dan kapal ikan yang menyemut adalah dunia yang amat lain dengan tempat kelahirannya, di pegunungan sana. Cuaca hari ini sebenarnya elok. Hanya saja gugusan awan lebih tebal dari biasanya. Sinar matahari pun terhalang. Padahal, ada sekelebat niat di hatinya, duduk sendirian di pasir hitam ini untuk menikmati warna oranye matahari pukul lima. 

Meski begitu, orang-orang yang juga menunggu momen ini seperti dirinya tampak oke-oke saja. Ada banyak hal yang bisa dinikmati dari laut, mungkin pikir mereka, terka Hemingway. Tapi memang, gugusan awan yang menebal membentuk kue lapis yang tidak dituang dalam cetakan. Suatu keindahan yang klise, tapi tak membosankan. 

Namun, debur ombak lah yang jadi pemeran utamanya. Angin berhembus kencang sehingga air bergulung silih berganti. Menciptakan perasaan penuh gairah dalam dada seluruh pelancong, yang entah mengapa menjadi semacam terapis bagi Hemingway. Bukan suasana hati berdebar—betapa mengecewakan jika ketenangan yang dicari, tapi ternyata adrenalin yang disuguhkan. Tidak. Semua orang di sini tetap berada dalam taraf ekspektasi yang normal. 

Hemingway pun, sesungguhnya, tidak terlalu berharap akan keindahan pantai ini. Dia hanya pengin menghabiskan sore dengan tanpa beban, membunuh waktu dengan apa adanya. Sebagaimana dia menjalani hidup sejauh ini, melakoninya dengan jujur. Dia meletakkan smartphone, tak membawa buku catatan seperti normalnya dia saat bengong, dan tak berbincang dengan seseorang. Dia murni menikmati suasana ini. 

Tawa dari kelompok-kelompok pertemanan di sekelilingnya mengawang dihantam suara ombak. Cewek-cowok bergantian ambil foto. Pedagang ribut dengan pembelinya. Tapi Hemingway hanya meresapi kesendirian ini. Sekadar membiarkan dialektika di kepala saja, tidak. Nikmatilah masa kini, pikirnya. Masa di mana kamu berkesadaran. Tak menyesali atau mengenang sejarah, juga tak berekspektasi terhadap masa depan. Hanya ada masa kini. 

Momen ini membuatnya teramat kosong. Bukan kosong dalam arti menyedihkan, yang sering ditandai kebanyakan orang sebagai kehampaan. Ini adalah kosong yang bermakna, bahwa semuanya berjalan dengan baik, dan berarti. Manusia memang sudah seharusnya menjalani kehidupan dengan ringan. Jika pun benar tuhan memberi kita kehidupan untuk menjaga alam semesta, mari kita jaga dengan enteng, tapi tetap seksama. 

Komentar

Postingan Populer