Cara Melupakan
Karen menyerahkan semuanya kepadaku. “Toh kita punya cara sendiri-sendiri untuk melupakan,” katanya. Jarang sekali aku berbeda pendapat dengannya. Persahabatan tujuh tahun kami dibangun salah satunya dengan rasa mudah bersepakat. Ini bukan karena saling mudahnya kami mengalah, atau keengganan kami untuk bertikai, tapi semata-mata karena kami nyaris melulu sepemikiran. Dengan dia bicara begitu juga sama saja kami bersepakat untuk tidak saling merecoki.
Setelah kuurut daftar tempat yang pernah kukunjungi bersama Vera selama kami berpacaran, kini aku beralih pada tempat yang belum pernah kami kunjungi. Kami putus dua minggu lalu. Jadi, selain menghindari tempat yang sudah aku dan Vera kunjungi karena takut bertemu dengannya lagi, ini adalah bentuk penyembuhanku. Selain itu, aku akan merasa puas dengan jumlah tempat kunjungan yang lebih banyak daripada Vera. Setidaknya aku akan lebih banyak menanggapi dibanding dia jika suatu saat seseorang menanyai kami tempat-tempat menarik di kota ini. Sungguh rencana yang remeh dan konyol, memang. Tapi inilah yang Karen maksud dengan, Toh kita punya cara sendiri-sendiri untuk melupakan.
“Justru dengan menulis daftar itu kau akan terus mengingatnya. Vera akan melekat di kepalamu bersama kenangan-kenangan tempat itu.” Sebenarnya aku sangat kepikiran dengan sanggahannya ini. Tapi bila tidak begitu, “Aku akan bertemu dengannya di tempat-tempat itu. Bukan cuma ingat kenangannya, bisa jadi aku bikin kenangan baru dengannya. Aku tak mau itu terjadi, Ren.” Lalu terlontarlah dari mulutnya, Toh kita punya cara sendiri-sendiri untuk melupakan.
Tapi sebenarnya aku begitu penasaran dengan cara Vera melupakanku. Aku melihatnya pergi menonton bersama mahasiswa bisnis syariah universitas Islam negeri satu-satunya kota ini. Sesuatu yang tak pernah dia lakukan bersamaku. Aku tak suka film-film mainstrem, dia beralasan. Kita bisa menikmati suasananya, sanggahku. Tapi lain kali, “Bioskop gelap dan sepi.” Lagipula apa yang akan kulakukan padamu di bioskop? Dia bersikukuh menolak. Dan aku sungguh merasa dikhianati mengetahuinya pergi nonton. Tapi apa benar menggaet jalang adalah caranya untuk sembuh?
Sesungguhnya Vera telah memblokir semua akun media sosialku. Aku harus memohon-mohon kepada Karen agar dia memberitahuku snap yang Vera unggah hari ini. Karena hanya dia satu-satunya sahabatku yang masih saling simpan nomor dengan Vera. Tapi Karen tak pernah mengabulkanku. Katanya, itu sama saja aku bertemu Vera lagi di tempat-tempat yang pernah Vera dan aku kunjungi itu. “Kau tahu itu akan menyakitimu, tapi kau begitu dongkol.”
Tapi, pukul 2 siang tadi tiba-tiba Karen memperlihatkan tangkapan layar snap Vera. Kurasa kali ini dia sangat bersimpati padaku. Atau dia mencoba melatihku melihat Vera dengan pacar barunya agar aku bisa menerima kenyataan lalu berdamai dengan semuanya. Snap itu berupa empat foto yang disatukan. Foto pertama Vera selfie sendirian. Foto kedua si cowok selfie sendiri. Foto ketiga dan keempat mereka selfie berdua. Berdempetan. Semuanya berlatarbelakang poster Mencuri Raden Saleh dengan, NOW SHOWING. Tercaption, “Mahasiswa bisnis syariah UIN ternyata ngefans juga ke Aghniny Haque,” dengan emotikon hati putih. Apa ada yang menutup lubang hidungku? Oke, aku akan bernapas dengan mulut. Tapi apa ada yang menyumpal mulutku? Atau aku tengah berada di ruang hampa?
Dan tiga jam setelah itu aku menulis daftar tempat ini.

Semangat hil
BalasHapusSemangat, fren.
Hapuskisah nyata yang tak pernah lupa. tapi bisa menghasilkan karya. mantap beut
BalasHapusBukan kisah nyata, kok. 😑
HapusSepertinya kamu perlu menambahkan pandangan dari sisi vera melakukannya. agar tidak anarkis berpihak 1 pandangan saja. Lantas jangan lupa untuk membubuhinya dengan sedikit penambahan penjelasan bersama siapa kau mengunjungi tempat2 tersebut (mungkin jika ada) dan bagaimana detail peristiwa yang terjadi ketika kamu mengunjungi tempat yang kamu katakan sebagai penyembuhan 😉
BalasHapusSaya berikan kebebasan sebebas-bebasnya kepada semua pembaca atas cerita saya ini. Entah mau ditafsir sebagai sesuatu yang berlandaskan kisah nyata, atau hanya omong kosong belaka, sebagaimana karya sastra dipandang sebagai sebuah karya seni dan intelektual pada umumnya. Tentu karya sastra berbeda dengan story Instagram atau WA, yang secara sadar dibuat sebagai sesuatu yang menggambarkan pemilik akun tersebut atau dimaksudkan untuk seseorang, meski tanpa menyebut nama. Karya sastra bisa dipandang seperti itu. Tapi bagaimanapun, toh semua yang ditulis Pramoedya Ananta Toer tidak selalu mewakili dirinya sendiri.
HapusSebagian besar karya sastra melihat titik latar belakang pengarangnya (seperti pelajaran kritik sastra yang saya tempuh) dan itu yang saya lakukan pada karya ini. Toh salah satu contoh Pramoedya anantra toer mengangkat cerita inem berdasarkan realita yang di fiksikan. Itu mewakili realitanya dirinya dalam lingkungannya. Dan saya kira itu tidak berbeda jauh dengan anda. Karna cerita ini menggambarkan beberapa realita kehidupan anda(bahkan hanya sisi pandang anda saja). Tidak salah kan melihat karya fiksi dari latar belakang pengarangnya?
HapusSama sekali tidak salah. Tapi apakah sebenarnya pantas melihat karya fiksi sebagai suatu teks yang benar-benar dapat dipercaya? Karya sastra bukan traktat, bukan dokumen sejarah, dan bukan biografi. Meskipun tak dapat dipungkiri beberapa bagian dalam karya sastra berdasarkan kisah nyata. Tapi apakah kemudian kita bisa membedakan dengan cermat yang mana bahan dasar (kenyataan) dan yang mana bumbu (fiktif) dalam karya sastra? Itu sangat samar.
Hapus