Penyesalan Atas Tiap Jengkal Penolakanmu
“Kamu tak pernah menerima tawaranku jalan berdua. Benar-benar berdua. Tak pernah.” Begitu katamu waktu itu kan, Jem? Dengan nada yakin dan menyalahkan. Seolah hanya itu titik pusat yang mengakibatkan hubungan kita kandas. Akan kuingat sampai kapan pun komat-kamit mulutmu mengucapkannya. Bahkan aku telah menangkap tiap hurufnya. Membersihkannya dari remah-remah amarahmu—karena aku benci dengan caramu menuturkannya. Dan bukan kemudian kutaruh di plastik sampah. Tapi kujemur seperti ikan asin. Kupersiapkan laksana makanan lezat siap santap yang darinya aku bisa membalasmu suatu saat. Ingat-ingat itu, Jem.
Setelah kau menolakku mentah-mentah untuk memulai lagi hubungan kita dari awal, kendati bolak-balik kuyakinkan dirimu bahwa segalanya akan kembali baik namun kau berkeras berkata tidak, betapa aku sadar bahwa cintaku telah melampaui batas, sampai-sampai aku pun tak sanggup bertahan lama-lama pada gelapnya kedalaman batas itu. Bahkan saat kau terus-menerus meragukan, cintaku tetap sedalam itu, Jem. Kau memang tak pernah bertanya, “apakah kau sungguh mencintaiku?”, “setulus itukah sayangmu padaku?”, “begitu yakin kau memilihku?” atau pertanyaan-pertanyaan meragukan lainnya. Tapi, sikapmu! Kau tak pernah langsung percaya “aku langsung pulang”, “sedang keluar sendiri” atau “dia hanya teman”. Kau tak pernah percaya. Seolah selalu saja ada titik hitam di paling putih lembar kertasku. Sebegitu busukkah mulutku di matamu?
“Kita butuh waktu-waktu berdua. Membicarakan apapun yang kita mau,” katamu lagi. Mungkin sebelum itu kau menutup telinga dari maafku. Mungkin bahkan kau tak berpikiran aku bakal meminta maaf. Tapi tangismu membuatku iba hingga akhirnya rela menyalahkan diriku. Memang harus rela sebenarnya. Sebab, jujur, sungguh aku tak pernah mau kalah denganmu sebelumnya. Sekarang aku kalah. Angkat tropimu, Jemi. Klaim hadiahmu.
Saat Tedy bersungguh-sungguh mendekatiku aku menyambutnya hangat dengan ambisi; inilah momen tepat di mana aku mesti meluruskan semuanya. Semua yang telah kubelokkan di hubungan kita. Semua yang telah kupelesetkan bersamamu. Semua yang telah mendorongmu mencampakkanku, Jemi. Semua yang membuatmu sadar bahwa saat manis permen karetmu tandas, enteng kau meludahkannya.
Oleh karena kau menolak, penuh serius aku memulai semuanya dengan Tedy. Tidak denganmu. Jangan bertanya siapa Tedy. Kau tak mengenalnya dan takkan pernah mengenalnya. Dia juga tak ada antusias sama sekali mendengar namamu setelah kujelaskan semua bagaimana perlakuanmu padaku. Satu hal saja: dia lebih baik darimu. Dalam apapun. Setidaknya begitulah hematku.
Alasan yang beribu-ribu kali kulempar tepat ke mukamu setiap kauajak aku nonton telah kutaggalkan seluruhnya, Jem. Bahkan mungkin sedikit pun tak terpikirkan aku mau mangkir dari setiap ajakan Tedy. Jadi, jaga kesehatan hatimu kalau-kalau tak sengaja berpapasan dengan kami di jalan atau bioskop. Tak sabar kudengar serentetan frasa patah hati dan penyesalan dari bibirmu, seperti yang kaurangsang lebih dulu dari hatiku dengan tiap jengkal penolakanmu.

Kerennnnnnn
BalasHapusKeren banget, pemilihan diksinya, penataan diksinya, keren pollll
BalasHapusSerasa baca cerpen terjemahan bahasa Perancis 🥳
BalasHapus👏
BalasHapus