Membaca Surat Penulis Favorit


Ferhard
terkejut saat mendapati penulis favoritnya Franz Selinger, yang telah vakum selama lima tahun terakhir akhirnya merilis karya baru. Bukannya sebuah novel atau kumpulan cerpen sebagaimana yang sudah-sudah, kini penulis yang telah Ferhard baca semua karyanya itu hanya merilis selembar surat. Itupun bukan bentuk cetak. Hanya ditulis dengan sederhana tanpa ilustrasi dan diunggah di website pribadinya. Selinger, dari akun Instagramnya, yang baru Ferhard buka sesaat setelah dia terjaga dari tidurnya semalam, menuliskan bahwa surat itu adalah surat yang dia tulis kepada mantan pacarnya yang pertama, saat mereka baru saja putus. 

Ferhard berpikir mungkin Selinger sudah kehabisan akal untuk menulis karya baru. Dia sekarang hanyalah penulis yang mengorek-ngorek arsip di raknya. Membongkar semua kertas yang berderet, yang dahulu sempat akan dia dibakar karena putus asa. Jadi, pikir Ferhard, karena sekarang Selinger sudah menganggap dirinya sangat populer sebagai seorang penulis, pembaca pun akan membaca apapun yang diterbitkan Selinger. Ferhard berpikir apakah akhirnya semua penulis akan menemukan masa demikian juga? Kalau sudah seperti ini, akankah Ferhard menemukan penulis baru untuk dia kagumi? 

"Ah, pakai berbayar segala lagi," kata Ferhard setelah mengakses tautan cerpennya. Dia mengecek saldonya. Cukup. Harga suratnya hanya Rp 15 ribu. "Ini jadinya kayak sarapan. Semoga membaca surat Selinger ini bisa jadi awal hariku yang baik," gumamnya. 

Untuk Rosalina, dari Franz Selinger. 

Sekarang, ketika aku mengingatmu, yang muncul di kepalaku hanyalah bagaimana caramu melepaskanku. Aku tahu kita saling menyakiti. Dan sesuatu yang sakit memang harus disembuhkan. 

Kini, aku bersyukur yang tersisa dari masa lalu kita dalam diriku adalah hal-hal yang tidak enak dari hubungan kita yang singkat namun mendalam itu. Aku telah mengibaratkan hubungan itu seperti hujan yang sebentar di padang pasir. Tanah berubah basah, tapi hanya sementara. Mendidihnya matahari telah membuat "caramu melepaskanku" menjadi titik terakhir dari air yang menetes, kemudian mengering dengan sangat lekas. 

Tampaknya kamu sudah mempersiapkan itu dari awal. Mempersiapkan semuanya saat pertengakaran di antara kita menjadi makin sering. Mungkin saat itulah kamu mulai berpikir bahwa bukan aku orangnya. Kamu mungkin berpikir pasti di luar sana ada orang lain, yang tak pernah membuatmu menangis. Tak pernah membikinmu merasa rendah. Tak pernah memandangmu sebagai sesuatu yang insignifikan. 

Akhirnya kamu mencari orang itu. Kamu pun mulai berkenalan dengan banyak orang, karena kamu yakin seseorang itu ada di antara mereka. Namun, bersamaan dengan itu, kamu masih menyuapi aku makan. Masih ini, masih itu, dan masih semuanya denganku. Keduanya kamu lakukan bersama-sama sampai kamu menemukan seseorang yang tak akan membuatmu menangis lagi. Kemudian, walau makanan yang dari piringku kamu ambil untuk menyuapiku belum habis, kamu pergi duluan, mengejar orang itu. 

Bahkan kursimu masih hangat. Bunyi gema jatuhnya sendok yang kautinggalkan pun masih berdenting. Lalu dengan siapa aku menghabiskan makananku? Dari runtutan itu, bagaimana bisa aku melupakan caramu melepaskanku? 

Ferhard mulai bernapas lagi. Dia yang saat ini duduk di kursi dapur memandangi tumpukan piring yang belum dia cuci. Dia telah menangkap kesan dari surat Selinger itu. "Selinger sangat mantap untuk mengawali surat ini. Aku yakin si cewek segera menyadari kesalahan besar apa yang telah dia lakukan kepada Selinger," pikirnya. Namun, selanjutnya Ferhard justru berpikir, semakin ke tengah dan ke akhir, pesona Selinger luntur. Membuat surat ini hanya seperti surat dari laki-laki yang baru saja jatuh cinta, dan dia belum tahu cara jatuh cinta yang elegan.

Selinger memang tidak menyebutkan di usia berapa dia menulis surat ini. Dan ini pun membuat Ferhard penasaran, apakah pengalaman cintanya yang pertama kali berada di usia yang sama dengan Selinger. Pertama kali Ferhard merasa tertarik dengan wanita adalah saat dia di bangku SMA kelas XI. Namanya Woolf, wanita semampai yang bertetanggaan dengan Ferhard. 

"Tapi aku suka Selinger yang mengibaratkan hubungannya dengan hujan yang turun sebentar di padang pasir. Maksudku seseorang tak pernah tahu bagaimana dia mempertahankan satu perasaan kepada seseorang," pikirnya. 

Sekarang Ferhard berpikir surat ini telah mengingatkannya kepada Woolf. Di mana dia sekarang, tanyanya. Sudah 15 tahun Ferhard tak mendengar kabarnya. Bahkan kabar terakhir pun dia dapat bahwa Woolf di kuliah psikologi dan fokus masalah forensik. "Mungkin dia di salah satu penegak hukum sekarang," pikir Ferhard. 

Namun, saat itu, sewaktu akhirnya Ferhard sadar bahwa dia mencintai Woolf kemudian putus, dia tak pernah terbayangkan untuk menulis surat kepada Woolf seperti yang dilakukan Selinger kepada Rosalina. Ferhard baru ingat waktu itu dia tak sesedih orang-orang ketika putus cinta. Hanya saja dia merasa lebih kesepian dari biasanya. 

"Baiknya aku mulai siap-siap," kata Ferhard setelah berhenti berpikir dan berpaling ke jam dinding. Sejam lagi dia harus ada di kantor. 


Komentar

Postingan Populer