Ingin Menjadi Tuhan: Kritik Penulis Israel Kepada Negaranya Atas Konflik dengan Palestina


"Ini cerita tentang seorang sopir bus yang tidak pernah mau membukakan pintunya bagi orang-orang yang terlambat," buka Etgar Keret di salah satu cerpennya yang paling populer, "Supir Bus yang Ingin Menjadi Tuhan". 

Keret selalu menciptakan premis yang aneh di hampir seluruh cerita pendeknya. Dia selalu berpikir berbeda dari kebanyakan orang. Dan dalam satu taraf, memang itulah ciri khas pria asal Israel ini. Belum lagi kejernihan dan kepekaan pikirannya dalam menangkap hal-hal kecil dari kehidupan, yang kemudian dia selipkan ke cerita-cerita pendeknya yang subtil. 

Dalam cerpen yang terkumpul dalam kumpulan cerpen berjudul sama oleh Pustaka Anagram pada Desember 2022 lalu itu, si sopir memiliki ideologi bahwa lebih baik mengutamakan orang yang tepat waktu daripada yang telat. Apalagi yang tepat waktu jumlahnya selalu lebih banyak. Dan memang itulah yang seharusnya moral anggap benar. 

Namun, suatu ketika sopir bus ini tiba-tiba mau membukakan pintu untuk seorang remaja bernama Eddie. Eddie yang tengah memegang janji akan menemui cewek yang kemarin dia ajak kenalan di kafe tempat dia kerja semakin bersemangat. (Eddie telat karena dia memiliki penyakit yang membuatnya selalu susah tidur. Jadi dia selalu bangun kelebihan dari jam yang seharusnya dia bangun). 

Ternyata sebelum jadi sopir bus, si sopir ini pernah bercita-cita menjadi Tuhan. Cita-cita yang aneh. Waktu itu sopir bus berpikir, jika dia menjadi Tuhan dia akan mengabulkan semua permintaan hamba-Nya. Maka akhirnya dia membukakan pintu untuk Eddie. Selain dia teringat dengan cita-cita itu, kebetulan bus tengah berhenti di lampu lalulintas. Dia pun bertingkah layaknya Tuhan meski saat ini dia hanyalah seorang sopir bus. 

Eddie pun bisa datang tepat waktu, meski ternyata cewek yang diajaknya bertemu tidak ada di tempat itu. Tanpa sepengetahuan Eddie, ternyata cewek itu sudah punya pacar.
 
Eddie tak langsung pulang. Dia masih duduk di sana sambil merenung sampai akhirnya bus kembali datang ke tempat itu. Dan cerita berakhir di sini. 

Seharusnya kita tahu dari dunia seperti apa Keret dilahirkan. Namun, kita bisa menebak-nebak dari pemikirannya tentang sopir bus yang tak mau membukakan pintu orang-orang yang terlambat, selain karena mungkin sosoknya yang disiplin, bisa juga kita bilang Keret amat konservatif. Meski kita juga bisa menganggap itu hanya sebatas salah satu pemikiran yang diakomodir Keret. 

Sementara dengan dia menciptakan adegan sopir bus memperbolehkan Eddie masuk karena ingatannya akan cita-cita menjadi Tuhan, tampaknya dia juga cenderung liberal. Sebab sebagaimana moral berlaku, yang tepat waktu jelas lebih baik daripada yang terlambat. Namun, keadaan menentu membuat seseorang mengambil keputusan secara liberal. 

Dalam tataran yang lebih besar, saya kemudian diserang oleh pemikiran bahwa cerpen ini sebenarnya kesubtilan Keret dalam memandang konflik negaranya dengan Palestina. 

Kita semua juga tahu Bangsa Yahudi meyakini Palestina merupakan musuh kuno mereka. Di sisi lain Tanah Palestina juga seharusnya milik Bangsa Yahudi. Hal inilah yang kemudian melahirkan zionisme. 

Keret tak pernah secara gamblang menunjukkan dukungannya terhadap salah satu pihak yang sudah berpuluh-puluh tahun berkonflik itu. Dari cara dia menulis, dia memihak kepada kemanusiaan. Dan saya memandang perilaku sopir bus yang akhirnya mengizinkan Eddie masuk adalah kritik terhadap Israel yang terus memegang teguh kepercayaan mereka sambil diiringi nyawa yang terus berguguran. Keret ingin mengatakan bahwa bangsanya tidak harus melulu konservatif dalam menghadapi dunia masa kini: untuk menjadi sebuah negara yang berdaulat, Israel tidak seharusnya merampas seenaknya sendiri. Dan dengan rasa kemanusiaan itu Keret Bangsa Yahudi saat ini untuk berpikir liberal dalam mendirikan sebuah negara. 

Komentar

Postingan Populer