Uji Kuat Simpul Relasi Jurnalis
Sabtu (30/8) malam lalu, saya menemani jurnalis Kompas TV Mas Icang liputan acara pertama rangkaian Festival Ki Ronggo di Bondowoso. Dia berbasis di Jember, tapi Bondowoso juga wilayah cakupan liputannya. Berangkat dari Jember, dia singgah di kantor saya. Dan kami liputan bareng-bareng di Alun-alun Bondowoso.
Meskipun Mas Icang senior jauh di atas saya, dan kenyataannya dia lebih banyak kenal-dikenal orang-orang penting di Bondowoso dibanding saya, dia tidak gengsi meminta tolong saya untuk menghubungkan dia dengan Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Bapak Mulyadi. Dia belum kenal dengan Pak Mulyadi. Saya pun sebenarnya belum terlalu kenal. Apalagi Pak Mulyadi ke saya. Saya yakin sepertinya beliau hanya ingat wajah lupa nama. Tapi karena memang saya beberapa kali sempat komunikasi dengan Pak Mulyadi, saya sangat menyanggupi permintaan tolong itu.
Yang saya maksud menghubungkan ini terutama dalam mengakomodasi permintaan wawancara khusus di luar wawancara bersama jurnalis lain. Jurnalis TV beda dengan jurnalis tulis. Mereka memerlukan wawancara sendiri. Merek butuh visual narasumber yang berhadap-hadapan sehingga lebih baik wawancara empat mata. Pertanyaan mereka juga benar-benar dirunutkan. Sudah sering saat wawancara bareng antara jurnalis TV dan tulis, narasumber terdistraksi dengan banyaknya penanya.
Kami pun melaksanakan pekerjaan kami malam itu dengan tuntas. Mulai dari mengambil video dari berbagai angle, sampai mewawancara Pak Mulyadi, salah satu penampil (karena di acara itu full penampilan budaya), dan salah satu penonton (seorang kawan saya, wkwkwk).
Pertolongan Mas Icang ini saya sadari menguji hubungan saya dengan narasumber. Delapan bulan bertugas di Bondowoso, saya menyadari saya tak memiliki kedekatan khusus dengan sebagian besar narasumber saya. Kebanyakan hanya hubungan sebagai jurnalis dengan narasumber. Bukan Hilmi secara pribadi. Secara umum saya berhasil menghubungkan Mas Icang dengan Pak Mulyadi. Tapi itu bukan murni atas bantuan saya. Dan relasi jadi salah satu evaluasi paling penting untuk saya selama ini.
Senang bisa membantu kawan dan siapapun yang bisa dibantu. Saya merasa penting ada di kehidupan ini (sah-sah saja untuk merasa begini, bukan?). Dan dari pengalaman-pengalaman semacam ini, saya jadi tahu di mana letak kekurangan saya dari profesi yang saya tekuni ini. Tantangan memang berat. Tapi setiap kata selalu memiliki lawan. Sesuatu bisa berat karena ada ringan.

Komentar
Posting Komentar