Pertama Kali Saat Orang Lain Terkesan Kepadaku Karena Cerpen
Aku begitu ingat kapan aku menulis cerpen pertama yang membuat orang lain terkesan kepadaku. Cerpen itu kutulis sewaktu aku duduk di kelas dua SMA. Aku tak ingat apa isi cerpen itu karena itu sudah lama sekali dan aku juga menghilangkan salinannya. Tapi aku ingat saat murid dan guruku di madrasah, yang memberi tugas untuk menulis cerpen itu, menggunjingku di kelas lain karena cerpen itu.
Beliau bernama Doni Eka Saputra. Di sini, kami selalu menambahi panggilan guru dengan kata ustaz, merupakan bahasa Arab yang bermakna guru dalam bahasa Indonesia: Ustaz Doni. Dia mengajar mata pelajaran kaidah fikih. "Cerita adalah salah satu cara paling efektif untuk mengajarkan kaidah fikih kepada orang lain," ucapnya suatu kali. Kami pun menerima tugas darinya untuk membuat cerpen yang memuat minimal lima kaidah fikih.
Sewaktu di kelas, setelah kami mengumpulkan salinan cerpen kami di depan, aku tidak terpilih untuk membacakan cerpenku seketika itu. Tapi sekitar sepekan kemudian, saat aku baru sampai di halaman madrasah, seorang teman berlari ke arahku dan memberitahuku bahwa Ustaz Doni memuji-muji cerpenku di kelasnya. Beliau bilang caraku menulis tokoh yang mempertahankan prinsip diri menggunakan kaidah fikih sangat lah cemerlang.
Kukira temanku hanya bercanda. Tapi teman yang lain pun berkata demikian dan meyakinkaku bahwa ini bukan lelucon. Sejak saat itu lah rasanya aku ingin menjadi penulis. Meski sampai sekarang aku tak betul-betul menjadi penulis, aku merasa aku sudah menjadi penulis dan momen itu mengembalikanku terhadap fakta bahwa aku benar-benar ingin menjadi penulis, sejak saat itu. Terutama menulis cerpen. Tak ada yang lebih bahagia bagi seorang penulis pemula selain karyanya dipuji para pembaca.
Namun, setelah enam tahun masa itu terlewati, aku tetap menjadi seorang penulis yang biasa-biasa saja. Sebab awalnya kupikir, saat aku berusia 20 tahun, aku akan bisa menulis sebuah cerpen yang keren saat usiaku mencapai 23. Tapi ternyata tidak. Satu tahun setelah target itu tak tercapai dan terlampaui, aku tak pernah memenangkan kejuaraan penulisan apapun. Tak seperti teman-teman sebayaku di kelas atau adik kelasku yang berhasil menang lomba sana-sini. Karena itu pula akhirnya aku agak jengah untuk sering ikut lomba, selain karena kemalasanku sendiri.
Beberapa kali aku turut dalam perlombaan dan kalah. Itu benar-benar menghancurkan semangatku. Namun, saat aku menggubah komentar singkat untuk pernyataan "telah membaca Tolstoy" dari salah satu tokoh politik terkenal baru-baru ini, aku mendapat energi baru dari pujian-pujian pembaca. Rasanya aku telah menjadi penulis yang tak biasa-biasa amat. Aku masih berharga dan aku masih di jalanku untuk menjadi penulis cerpen.
Momen ini membuatku semakin ingat Ustaz Doni, ingat kaidah fikih, dan ingat cerpen itu.
Komentar
Posting Komentar