Saya Sudah Baca Tolstoy Waktu SD


Suatu ketika, Pria-Polos itu menemukan satu tweet yang menceritakan seorang ayah di India menjejali buah hatinya yang baru berumur 10 tahun, sebuah novel karya Salman Rushdie. Waktu itu, Pria-Polos memasuki usia 21 tahun. Dan dia sudah tahu siapa Salman Rushdie! Tentunya, si sastrawan Islam buronan Ayatullah Khomeini itu; sastrawan yang sangat populer dari India. 

Si Pria-Polos kagum dengan cara ayah itu menumbuhkan literasi pada anaknya yang tak tanggung-tanggung. Sementara saat dia seumuran anak itu, ayahnya hanya membelikannya buku kisah 25 nabi dan rasul. Terlepas muatannya yang penuh ajaran kebaikan dan amanat, siapalah yang menulis ulang cerita nabi itu? Pastinya ia ditulis dengan gaya bahasa yang biasa-biasa saja. Penulisnya pun tak terkenal-terkenal amat. Tak seperti Salman Rushdie. 

Beberapa tahun sebelumnya, saat Pria-Polos duduk di bangku kelas dua SMA, dia begitu terkesima dengan cerpen terjemahan pertama yang dia baca, berjudul "Memandang ke Luar Jendela". Rasanya dia tak pernah menemukan cerpen seproposional itu. Cerpen itu ditulis oleh sastrawan peraih Hadiah Nobel Sastra 2006; seseorang yang berhenti kuliah arsitektur di Universitas Istanbul karena lebih memilih menulis novel dengan alasan baut di kepalanya copot; pria yang lahir di negara dengan identitas yang terbelah dua—Barat dan Timur; seorang Turki yang maju: Orhan Pamuk. Dan kualitas cerpen itu membuat Pria-Polos menyesal baru membacanya di kelas dua SMA. Tidak seperti si bocah dari India yang sudah membaca karya sastra keren sejak SD. 

Belum lama ini, Pria-Polos itu disuguhi cuplikan video salah satu pendukung militan presiden Indonesia terpilih. Kita akan menyebut pendukung itu dengan panggilan Pria-Berjas-Biru-Muda, yang mengaku sudah membaca Leo Tolstoy—sastrawan terkemuka Rusia, penyandang status guru moral paling penting Uni Soviet—meskipun Pria-Berjas-Biru-Muda itu tak menyebutkan satu pun judul karya Leo Tolstoy saat diminta lawan debatnya. 

Tapi yang menarik perhatian Pria-Polos adalah, jika pengakuan Pria-Berjas-Biru-Muda itu benar, bahwa sewaktu SD dia sudah membaca Tolstoy, ini sungguh luar biasa. Ternyata, tidak hanya di India. Indonesia juga punya anak SD yang sudah membaca karya bagus level dunia. Tolstoy. War and Peace, mungkin? Atau Anna Karenina? Kita sama-sama tak tahu Pria-Berjas-Biru-Muda itu baca judul yang mana. 

Dari itu kita bisa melihat, bahwa pengakuan "sudah membaca Tolstoy", apalagi di sebuah sesi debat, merupakan usaha menunjukkan level intelektualitas. Pria-Berjas-Biru-Muda ingin lawan debatnya tahu, bahwa yang dia hadapi adalah orang yang kerangka berpikirnya turut dibentuk oleh karya agung bikinan Tolstoy. Bayangkan, Tolstoy! Hanya saja, lawannya adalah Rocky Gerung. Orang yang kemungkinan besar sudah hatam sastra Rusia. Mulai dari Pushkin; beralih ke Dostoyevsky dan Gogol; sampai ke Vladimir Nabokov.

Yang tak kalah membuat heran adalah, ternyata karya sastra lah yang dijadikan ukuran intelektualitas, di tengah tingkat kegemaran masyarakat Indonesia membaca sastra (atau literatur secara umum), dapat dibilang rendah. Kita pun mungkin bertanya-tanya, bagi mayoritas masyarakat, apalah arti sepenggal kisah fiksi War and Peace atau Anna Karenina dalam kaitannya dengan ukuran tingkat intelektualitas seseorang? 

Kenapa Pria-Berjas-Biru-Muda itu tidak bilang sudah membaca Karl Marx, misalnya. Atau Einstein, Kierkegaard, Freud atau tokoh masyhur di bidang lainnya. Mengapa harus tokoh di bidang sastra? Apakah kemudian seseorang yang membaca Tolstoy lebih oke dibanding yang membaca Kierkegaard? Bukankah juga orang-orang lebih familiar dengan nama-nama barusan dibanding Tolstoy? 

Pertanyaan-pertanyaan ini pun ujung-ujungnya mengantarkan kita pada keheranan: mengapa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akhirnya mewajibkan siswa membaca karya sastra di sekolah? Jangankan membaca karya sastra, membaca buku pelajaran yang sudah pasti sangat dibutuhkan untuk ujian mereka saja ogah-ogahan. Apalagi membaca sastra yang bagi sebagian besar orang tak ada gunanya? Apa kata wali murid? "Amboi, belum juga selesai ngajarin matematika dan bantu hafalan pancasila, sudah harus jagain anak baca novel." 

Rumusan masalahnya bisa kita pecah jadi dua. Pertama, mengapa harus membaca? Kedua, mengapa harus karya sastra? 

Bersambung...



Komentar

Postingan Populer